
Penyaluran Bantuan Dan Donasi Rp50,65 Juta Untuk Korban Gempa Flores, Tim Relawan Hindu Dharma : Pemuda Hindu PERADAH NTT Dan Mahasiswa Hindu PD KMHDI NTT Bergerak Salurkan Donasi Dari Kupang Menuju Flores NTT, Foto : 3 September 2026.
HinduKupang.com – Flores, NTT – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7SR yang mengguncang Kabupaten Nagekeo Pulau Flores di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB meninggalkan kerusakan infrastruktur, korban dunia hingga dampak kemanusiaan yang besar. Berdasarkan Update Penanganan Darurat Bencana yang ditampilkan Pemerintah Provinsi NTT bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta BPBD NTT per 1 September 2026 pukul 17.00 WIB, bencana tersebut berdampak pada tujuh kabupaten, yakni Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ende, Dan Ngada. Data yang tercantum menunjukkan 127 orang meninggal dunia, 1.668 orang luka-luka, serta 181.354 orang mengungsi. Infografis tersebut juga mencatat 97.215 rumah mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan gempa Flores bukan lagi sekadar persoalan tanggap darurat sesaat, tetapi telah berkembang menjadi kebutuhan kemanusiaan yang membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Pemerintah daerah bersama lembaga penanggulangan bencana masih menghadapi pekerjaan besar untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, memperbaiki tempat tinggal dan fasilitas umum, sekaligus memastikan masyarakat terdampak dapat memasuki tahap pemulihan.

Di tengah situasi tersebut, Tim Relawan Hindu Dharma yaitu Perhimpunan Pemuda Hindu (PERADAH) Kupang dan Provinsi NTT bersama Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PD.KMHDI) Provinsi NTT mengambil bagian melalui aksi solidaritas kemanusiaan. Sejak 15 Agustus 2026, kedua organisasi tersebut membuka penggalangan donasi untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa di Pulau Flores. Gerakan tersebut juga mendapat dukungan dari umat Hindu dan berbagai pihak dari sejumlah daerah di Indonesia. Tim Relawan Hindu Dharma NTT yang berangkat menyalurkan bantuan paket sembako yaitu : I Putu Satria Mulyadi (Ketua Peradah NTT), Wayan Megaputra, I Nengah Sudarsa, I Made Jefri, dan I Nyoman Widiarta.
Upaya penggalangan dana itu berhasil terhimpun donasi pada 3 September 2026, total dana yang terkumpul mencapai Rp50.650.000. Dana tersebut selanjutnya diwujudkan dalam bentuk berbagai kebutuhan bantuan, termasuk paket sembako, yang dipersiapkan untuk dibawa dan disalurkan kepada masyarakat terdampak di Flores.
Dalam Wawancara Media HinduKupang.com bersama Ketua Mahasiswa Hindu (KMHDI) I Putu Eka Saputra,SH, mengatakan PERADAH NTT dan KMHDI NTT berkolaborasi membentuk Tim Relawan Hindu Dharma NTT untuk menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak gempa Flores. Donasi yang terkumpul dibelanjakan berupa air mineral, mie, beras, popok bayi, dan obat-obatan. Penggalangan donasi dimulai sejak 15 Agustus 2026, dan bantuan akan disalurkan pada 3 September 2026. Bantuan akan disalurkan ke 2 posko pengungsian di Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian, solidaritas, dan aksi kemanusiaan anak muda Hindu untuk hadir membantu masyarakat yang terdampak bencana di Flores. Melalui kolaborasi PERADAH NTT dan KMHDI NTT, dilakukan open donasi yang kemudian dihimpun dan dibelanjakan menjadi kebutuhan pokok serta kebutuhan masyarakat terdampak. Selanjutnya, bantuan tersebut dibawa langsung oleh Tim Relawan Hindu Dharma untuk disalurkan ke dua posko di Kecamatan Borong.

Momentum penyaluran bantuan pada 3 September 2026 juga memiliki arti tersendiri bagi keluarga besar KMHDI karena bertepatan dengan hari ulang tahun KMHDI ke 33. Dari Kota Kupang, bantuan tersebut diberangkatkan menggunakan satu truk dan satu mobil pick up, melalui jalur Pelabuhan Tenau Kupang menuju wilayah Flores. Langkah ini menunjukkan bahwa solidaritas tidak berhenti pada pengumpulan dana, tetapi dilanjutkan dengan upaya membawa bantuan secara langsung mendekati masyarakat yang membutuhkan.
Penyaluran bantuan diarahkan untuk sejumlah kebutuhan utama. Di antaranya kebutuhan darurat berupa makanan, air minum bersih, paket kemanusiaan, serta pemulihan dan pendampingan berupa dukungan psikososial. Bantuan juga difokuskan kegiatan kemanusiaan lainnya sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Dari sisi gerakan sosial, aksi PERADAH NTT dan KMHDI NTT menarik perhatian karena membawa semangat kemanusiaan lintas kelompok. Seperti Empat jati diri KMHDI Religius, Nasionalis, Progresif dan Humanis, diterjemahkan ke dalam tindakan nyata melalui kepedulian terhadap korban bencana. Dalam perspektif nilai Hindu, gerakan Humanis tersebut juga dikaitkan dengan prinsip Pawongan dalam Tri Hita Karana, yakni membangun hubungan harmonis antar manusia melalui sikap saling menolong, peduli dan membantu sesama.



Tujuan dan poin penting dari gerakan ini bukan semata-mata besarnya nominal donasi, melainkan bagaimana solidaritas tersebut dikonversi menjadi bantuan konkret. Rp50,65 juta mungkin tidak sebanding dengan luasnya kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana, namun ketika dihimpun melalui gotong royong, dana tersebut dapat menjadi bagian dari rantai bantuan yang menopang kebutuhan warga pada masa darurat dan pemulihan.
Lebih jauh, aksi tersebut memperlihatkan peran strategis organisasi kepemudaan dan mahasiswa Hindu Dharma NTT dalam respons kebencanaan. Generasi Penerus Hindu Kupang NTT, dan Anak muda Hindu Dharma tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi atau kelompok yang menunggu bantuan, tetapi dapat menjadi penggerak penggalangan sumber daya, relawan Hindu Dharma, distribusi bantuan dan edukasi kemanusiaan. Keterlibatan mereka sekaligus memperkuat jejaring solidaritas masyarakat sipil dalam membantu pemulihan dan mendukung penanganan bencana alam.


Aspek transparansi juga menjadi catatan penting. Dalam penyaluran donasi bahwa dana yang terkumpul akan dipertanggungjawabkan secara transparan dan diinformasikan secara berkala. Hal ini menjadi penting dalam setiap kegiatan penggalangan dana publik karena kepercayaan donatur merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan aksi kemanusiaan. Karena itu, pelaporan mengenai jumlah bantuan yang dibelanjakan, bentuk barang, lokasi penerima dan dokumentasi penyaluran akan menjadi langkah penting setelah bantuan tiba di Flores.
Keberangkatan bantuan kemanusiaan Tim Relawan Hindu Dharma dari Kupang pada 3 September 2026 bukan sekadar agenda distribusi logistik, tetapi menjadi simbol bahwa solidaritas terhadap korban gempa Flores NTT terus bergerak memasuki fase berikutnya. PERADAH dan KMHDI NTT bersama para donatur menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui kerja kolektif, menghimpun donasi, menyiapkan kebutuhan, mengangkut bantuan dan memastikan bantuan bergerak menuju masyarakat terdampak.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber dan Foto : Grup Whatsapp Hindu Kupang NTT, Alumni , Peradah dan KMHDI, serta BNPB , Putu Eka Saputra (Ketua PD.KMHDI NTT)

Baca Juga : Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 03 September 2026
- Hits: 80

Hindukupang.com - NTT , Palu, Sulawesi Tengah – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) menegaskan pentingnya memperkuat peran organisasi keumatan dalam menjaga kerukunan dan perdamaian di tengah masyarakat yang memiliki pengalaman sejarah konflik dan bencana. Penegasan tersebut disampaikan Ketua Panitia Mahasabha XIII PHDI, Letjen TNI (Purn) I Nyoman Cantiasa,S.E.,M.Tr.Han., dalam Focus Group Discussion (FGD) Pra Mahasabha XIII PHDI di Hotel Jazz, Kota Palu, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forkopimda Sulawesi Tengah, tokoh agama dan masyarakat, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, serta kalangan kampus dan akademisi.
Dalam paparannya, I Nyoman Cantiasa mengapresiasi ketangguhan masyarakat Sulawesi Tengah yang dinilai berhasil melewati sejumlah ujian besar. Wilayah tersebut pernah menghadapi konflik sosial bernuansa keagamaan di Poso pada periode 1998–2007, ancaman terorisme yang melibatkan kelompok Santoso dan Ali Kalora, serta bencana alam ekstrem berupa gempa bumi, tsunami dan likuefaksi pada 2018, yang kemudian disusul sejumlah peristiwa banjir bandang. Rentetan peristiwa tersebut meninggalkan pengalaman dan trauma mendalam, namun sekaligus menjadi pelajaran penting dalam membangun kembali hubungan sosial masyarakat.
Menurut Cantiasa, pengalaman masa lalu tidak semestinya diwariskan sebagai sumber dendam, melainkan dijadikan “lessons learned” atau pembelajaran untuk memperkuat fondasi perdamaian. Ia menekankan bahwa perdamaian tidak hadir dengan sendirinya, tetapi harus diciptakan, dirawat dan dijaga bersama. Dalam konteks tersebut, PHDI di daerah dinilai memiliki ruang strategis untuk mengambil peran yang lebih adaptif dan konkret dalam menjaga stabilitas sosial serta memperkuat persaudaraan lintas agama.
Ia juga mengaitkan pengalaman bencana alam di Sulawesi Tengah dengan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan. Bencana ekstrem, kata dia, harus menjadi pembelajaran bagi umat beragama agar semakin sadar terhadap kewajiban menjaga alam. Nilai tersebut sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan.
Ketangguhan masyarakat Sulawesi Tengah dalam mempertahankan toleransi juga disebut tidak terlepas dari solidaritas lintas agama dan peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Kerja sama tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam pemulihan hubungan sosial setelah konflik maupun munculnya persoalan yang berpotensi mengganggu kerukunan. Salah satu dinamika sosial yang disinggung dalam forum tersebut adalah persoalan terkait isu warung babi guling di Palu yang sempat menjadi perhatian masyarakat. Kasus tersebut menunjukkan bahwa komunikasi lintas agama menjadi kebutuhan penting untuk mencegah isu sensitif berkembang menjadi konflik sosial.

Dalam FGD tersebut, Ketua Panitia Mahasabha XIII PHDI, I Nyoman Cantiasa,S.E.,M.Tr.Han., secara khusus membahas isu-isu sensitif yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama. Ia mengingatkan bahwa sejarah kelam Sulawesi Tengah tidak perlu kembali dibuka sebagai luka, tetapi harus ditempatkan sebagai cermin untuk memahami pentingnya menjaga perdamaian. Menurutnya, masyarakat tidak dapat mengubah sejarah, tetapi dapat menentukan pelajaran apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, rekonsiliasi dan konsolidasi harus menjadi bagian penting dari agenda keumatan.
Untuk memperkuat peran tersebut, Cantiasa menawarkan lima dimensi strategis yang dapat dijalankan PHDI. Pertama, dimensi preventif, melalui deteksi dini terhadap isu SARA serta peningkatan literasi digital dan edukasi ant hoaks. Kedua, dimensi kuratif, yakni menjadikan PHDI sebagai mediator dan membuka ruang dialog ketika terjadi gesekan sosial. Ketiga, dimensi rehabilitatif, dengan mendorong pemulihan psikososial umat dan rekonsiliasi pascakonflik secara alami. Keempat, dimensi kolaboratif, melalui penguatan sinergi dengan FKUB, Kesbangpol, TNI/Polri dan tokoh lintas agama. Kelima, dimensi edukatif, dengan menyiapkan generasi muda Hindu sebagai agen perubahan yang moderat dan memahami nilai Tat Twam Asi.
Lima dimensi tersebut menunjukkan bahwa PHDI tidak hanya ditempatkan sebagai organisasi yang mengurus kepentingan internal umat Hindu, tetapi juga diharapkan mampu mengambil bagian dalam persoalan sosial yang lebih luas. Peran tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial yang memungkinkan isu bernuansa SARA maupun informasi palsu menyebar dengan cepat. Deteksi dini, komunikasi publik yang sehat dan kemampuan melakukan mediasi menjadi instrumen penting untuk mencegah persoalan kecil berkembang menjadi konflik terbuka.
FGD Pra Mahasabha XIII di Palu sekaligus menjadi bagian dari proses penyerapan aspirasi daerah dan pemetaan persoalan keumatan yang akan dibawa ke forum Mahasabha XIII PHDI. Forum ini diarahkan untuk tidak sekadar menginventarisasi persoalan, tetapi juga membedah akar masalah serta mencari solusi yang dapat memperkuat posisi PHDI dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Mahasabha XIII PHDI dijadwalkan berlangsung pada 8–11 Oktober 2026 di Jakarta.
Menjelang pelaksanaan Mahasabha XIII, PHDI membawa semangat Vasudhaiva Kutumbakam, yang bermakna bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga. Semangat tersebut menempatkan Mahasabha bukan sekadar sebagai forum pergantian kepengurusan atau konsolidasi organisasi, tetapi sebagai momentum rekonsiliasi, pembaruan dan penguatan peran PHDI dalam menjaga kerukunan umat beragama serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber dan Foto : Humas Panitia Mahasabha PHDI Pusat, I Made Sunarsa
Baca Juga : Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 31 August 2026
- Hits: 93

Festival Gerbang Nusantara 2026 Puskor Hindunesia Hadirkan Lomba Mekidung Tingkat TK,SD,SMP Di Kota Denpasar Bali
Hindukupang.com | Denpasar, Bali – Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) kembali menggelar Festival Gerbang Nusantara (FGN) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, 17–19 Juli 2026, di Inna Bali Heritage Hotel dan kawasan Lapangan Puputan Badung, Kota Denpasar, Bali. Festival ini menjadi wadah pelestarian budaya, pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta penguatan nilai-nilai Dharma Nusantara melalui beragam kegiatan yang melibatkan masyarakat luas.

Rangkaian kegiatan festival menghadirkan berbagai program, mulai dari bazar kuliner dan UMKM, lomba budaya, workshop edukasi, bakti sosial donor darah, pemeriksaan kesehatan, yoga, pembuatan eco enzyme, pengolahan kompos, hingga kegiatan lingkungan lainnya. Seluruh rangkaian acara terbuka untuk masyarakat secara gratis dan diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara budaya, pendidikan, sosial, dan ekonomi kreatif.


Wisatawan Mancanegara (WisMan) melihat Stand UMKM Dan Festival Gerbang Nusantara (FGN) , 17-19 Juli 2026 Puskor Hindunesia.


Koordinator Lomba Festival Gerbang Nusantara 2026, I Gede Dana, saat diwawancarai Hindukupang.com, menjelaskan bahwa kompetisi tahun ini diikuti sekitar 200 peserta dari jenjang TK, SD, hingga SMP. Adapun kategori yang diperlombakan meliputi Mekidung, Nyurat Tulisan Aksara Bali, Megender (alat musik tradisional Bali), Menyanyi Lagu Bali, Tari Bali, Lomba Mewarnai, serta Lomba Hafalan Mantra Tri Sandhya. Para pemenang akan memperoleh piala dan piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi dan partisipasi mereka dalam melestarikan budaya Hindu Bali.


Para Pemenang Juara Lomba Mekidung Bersama Para Dewan Juri


Tim Dewan Juri penilaian


Pembukaan resmi Festival Gerbang Nusantara 2026 dijadwalkan berlangsung pada 17 Juli 2026 pukul 19.00 WITA, dan direncanakan dibuka oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si, yang didampingi Pemerintah dan jajaran Pengurus Dewan Koordinator Nasional (Dekornas) Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia).
Festival Gerbang Nusantara (FGN) ini diketuai oleh Ir.Anak Agung Gde Agung selaku Ketua Pelaksana, serta dijadwalkan dihadiri oleh Ketua Dekornas Puskor Hindunesia, DR.(H.C). Ida Bagus Ketut Susena,S.Kom bersama sejumlah tokoh Hindu, Pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.

Sebagai penutup rangkaian Festival Gerbang Nusantara (FGN), masyarakat akan disuguhkan pertunjukan seni Bondres "Trio Dongkrak Kenjir" yang dipersembahkan oleh Golden Sengap pada malam 19 Juli 2026. Penampilan tersebut diharapkan menjadi hiburan sekaligus media pelestarian seni pertunjukan tradisional Bali yang dikemas dengan nuansa humor dan edukasi.


Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Kordinator Nasional (Dekornas) Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) Dan Ketua Panitia Festival Gerbang Nusantara 2026, Bapak Ir.Anak Agung Gde Agung

Hindukupang.com Bersama Ketua Panitia Festival Gerbang Nusantara 2026, Bapak Ir.Anak Agung Gde Agung





Festival Gerbang Nusantara 2026 diproyeksikan menjadi salah satu agenda budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat, termasuk wisatawan domestik (Wisdom) maupun wisatawan mancanegara (Wisman), sehingga turut memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal di Kota Denpasar.
Pelaksanaan kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, diantaranya Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia, Dinas Pendidikan, Kepemudaan Dan Olahraga Denpasar, serta sejumlah sponsor yang berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan Festival Gerbang Nusantara 2026.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber Dan Foto : www.hindukupang.com dan Rygun


Baca Juga : MUKORNAS I Puskor Hindunesia, Moderasi Beragama dalam Membangun Harmoni Kebhinekaan Keyakinan Nusantara
Baca Juga : Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 17 July 2026
- Hits: 359

Tirtha Yatra Kebangsaan Dan Kebhinnekaan Pasraman Satyam Eva Jayate : Menelusuri Jejak Spiritual, Kebangsaan, Hingga Peradaban Nusantara Di Jawa Timur
HinduKupang.com, Nusantara – Sebanyak 45 peserta yang tergabung dalam Rumah Kebangsaan dan Kebhinnekaan (KaKeK) Pasraman Satyam Eva Jayate melaksanakan kegiatan Tirtha Yatra atau perjalanan suci dan spiritual pada 20–22 Juni 2026. Perjalanan yang mengusung semangat "1945" ini tidak hanya menjadi sarana persembahyangan di sejumlah Pura Hindu bersejarah di Pulau Jawa, tetapi juga menjadi momentum untuk menelusuri jejak kebangsaan, sejarah Nusantara, serta mengenang perjuangan Proklamator Bangsa Indonesia, Ir. Soekarno.
Kegiatan diawali pada 19 Juni 2026 malam, tepat jam 00:00 WITA, SembaHyang bersama "Matur Piuning" di Padma Candi Nusantara, Pasraman Satyam Eva Jayate, Kawasan Desa Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar. Kemudian perjalanan Bis menuju Penyawangan atau Pengayengan Pura Rambut Siwi di Kabupaten Jembrana, Bali, dengan Nunas Air suci Tirtha dan Bija sebelum rombongan menyeberang menuju Pulau Jawa. Sebanyak 45 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang organisasi, mahasiswa-mahasiswi, Kader KMHDI, forum alumni KMHDI, serta pemerhati Kebangsaan dan Kebhinnekaan mengikuti perjalanan yang berlangsung selama tiga hari tersebut. Keberangkatan yang bertepatan dengan semangat tanggal 19 Juni dan jumlah 45 peserta yang sama dengan angka tahun kemerdekaan Indonesia (1945) menjadi simbol semangat nasionalisme yang menyertai perjalanan spiritual tersebut.

Saat menyeberangi Selat Bali menuju Banyuwangi, 20 Juni 2026, para peserta disuguhi panorama matahari terbit yang dianggap sebagai pertanda baik sekaligus simbol awal perjalanan suci Tirtha Yatra. Fenomena alam tersebut menambah nuansa reflektif yang mengiringi rombongan dalam memasuki rangkaian kegiatan spiritual dan kebangsaan yang telah dipersiapkan.

Pada Sabtu, 20 Juni 2026 pagi jam 07:00-10:00 WIB, seusai bersih-bersih dan mandi, kemudian rombongan Tirtha Yatra pertama kali melakukan persiapan persembahyangan di Pura Agung Blambangan, Kabupaten Banyuwangi. Di tempat ini, sebelumnya para peserta melaksanakan kerja bakti sebagai bagian nilai ide progresif dan humanis dengan aksi kegiatan membersihkan areal pura bersama Juru Sapuh , dan kemudian mempersiapkan Sarana dan Prasarana Persembahan di Pura Agung Blambangan. Kemudian seluruh peserta menuju tempat makan siang yang telah disediakan oleh Keluarga Alumni KMHDI, di Banyuwangi, pada jam 11:12WIB

Perjalanan Tirtha Yatra kemudian dilanjutkan menuju kawasan Taman Nasional Alas Purwo yang dikenal sebagai salah satu kawasan sakral dan bersejarah di Pulau Jawa. Di lokasi ini peserta melaksanakan persembahyangan di Pura Kawitan dan Pura Luhur Giri Salaka pada rentang waktu pukul 12.12 hingga 14.30 WIB. Selain melakukan persembahyangan dan menerima tirtha serta bija, peserta juga melaksanakan kegiatan mereresik atau kerja bakti membersihkan areal pura bersama para pengelola setempat. Video Kerja Bakti dan Bersih Pura Kunjungi Disini.

Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam kawasan Pura Kawitan Alas Purwo. Dalam wawancara bersama media, Romo Mangku Tego menjelaskan bahwa bagian utama Pura Kawitas Alas Purwo ini berkaitan dengan pemujaan kepada Rsi Markandeya dan Rsi Beradah, sementara pada bagian sisi luar Pura Kawitan Alas Purwo terdapat pemujaan kepada Sang Hyang Ismoyo dan Kanjeng Ratu Kidul yang memiliki keterkaitan dengan kearifan spiritual masyarakat Jawa.


Kegiatan di Pura Alas Purwo tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan ritual semata, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan lingkungan. Kawasan Alas Purwo yang sering disebut sebagai hutan (daratan) pertama atau hulunya Pulau Jawa tersebut menjadi ruang pembelajaran mengenai hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas. Saat meninggalkan kawasan Taman Nasional Alas Purwo, rombongan 45 Peserta Tirtha Yatra bahkan disambut kemunculan burung merak di gerbang Alas Purwo yang menambah kesan "Nature code" kode alamNYA yang sangat mendalam bagi seluruh peserta.
Perjalanan pun berlanjut selama 9 jam dari Pura Alas Purwo Kabupaten Banyuwangi, menuju Pura Bhuvana Kertha, Singosari Kabupaten Malang, dan beristirahat di Wantilan Pura tepat pada tengah malam.


Memasuki Minggu subuh dini hari, 21 Juni 2026, jam 04:00 WIB , seluruh peserta usai mandi dan bersih-bersih, kemudian melanjutkan persiapan SembaHyang di Pura Bhuvana Kertha yang berada di kawasan Lanud Abdulrahman Saleh, Desa Tamanharjo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Persembahyangan dipimpin oleh Romo Mangku Jero Gede Bagus Gupta. Seusai persembahyangan, dilakukan penyerahan berbagai bibit pohon tanaman bunga seperti cempaka, kenanga, jempiring, dan jenis tanaman lainnya sebagai simbol kepedulian terhadap pelestarian lingkungan, yang diterima langsung oleh Ketua Pengurus yaitu Bapak I Ketut Ugrayana. Beliau mengucapkan aprsiasi dan terima kasih telah diberikan berbagai benih bibit pohon bunga yang bisa bermanfaat saat persembahyangan umat Hindu.

Penyerahan bibit pohon tersebut melibatkan berbagai unsur elemen dan organisasi serta komunitas, mulai dari Penyerahan berbagai bibit tanaman pohon bunga, diserahkan perwakilan :
1. PD.KMHDI Provinsi BaLi
2. PC.KMHDI Buleleng
3. PC.KMHDI Karangasem
4. PC.KMHDI Denpasar
5. Forum Pemerhati Ramah Anak, Denpasar Timur
6. FPMHD Universitas Udayana
7. Perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Maluku Pulau Buru, Provinsi Maluku
8. Perwakilan dari Alumni KMHDI, Hindu Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.
9. Perwakilan dari Rumah Kebangsaan dan Kebhinnekaan (KaKeK) Pasraman Satyam Eva Jayate.
10. Demisioner Ketua KMHDI BaLi
11. Dan Forum Alumni KMHDI
Kegiatan ini menunjukkan bahwa Tirtha Yatra tidak hanya berfokus pada penguatan spiritual, tetapi juga mendorong kontribusi nyata terhadap lingkungan dan masyarakat. Perjalanan berikutnya pada 21 Juni 2026, jam 06:30-09:30 WIB, menuju Kota Blitar yang menempuh waktu selama 3 jam.

Pada hari yang sama, 21 Juni 2026, jam 09:30 WIB, rombongan menghadiri peringatan Wafatnya "Haul" Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, di Kota Blitar. Kegiatan tabur bunga di kompleks makam Bung Karno Sang Proklamator NKRI berlangsung pada pukul 09.30 hingga 12.30 WIB dan menjadi bagian penting dalam rangkaian perjalanan kebangsaan tersebut. Setelah prosesi berlangsung, peserta disambut oleh Wali Kota Blitar, H. Syauqul Muhibbin,S.H.I atau yang akrab disapa Mas Ibin, bersama Wakil Wali Kota Blitar yaitu Elim Tyu Samba , dan juga hadir Kapolres Kota Blitar yaitu AKBP Kalfaris Triwijaya Lalo,S.I.K.,M.I.K, kemudian Komandan Kodim (Dandim) 0808/Blitar yaitu Letkol Inf. Virlani Arudyawan,S.H.,M.M.,M.H.I dan Kepala Kejaksaan Negeri Kota Blitar yaitu Romulus Haholongan,S.H.,M.M.,M.H.,CPLA bersama unsur Forkopimda Kota Blitar.


Selesai Penaburan Bunga, serta Kembang Rampe serta Persembahan Doa bersama di Makam Bung Karno, Momentum tersebut dilanjutkan dengan makan siang bersama Wali Kota Blitar Bersama 45 Peserta Acara "Haul" Bung Karno dari Rumah Kebangsaan Dan Kebhinnekaan (KaKeK) Pasraman Satyam Eva Jayate. Kemudian dilanjutkan kunjungan ke Perpustakaan Bung Karno dan Istana Gebang yang merupakan rumah masa kecil dan remaja Sang Proklamator. Kunjungan tersebut menjadi sarana edukasi sejarah bagi generasi muda untuk memahami perjalanan hidup Bung Karno sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan dan nasionalisme.
Selesai Tabur Bunga Dalam Acara Peringatan Wafatnya Haul Bung Karno, 45 Peserta Rumah Kebangsaan Dan Kebhinnekaan (KaKeK) Pasraman Satyam Eva Jayate, Berada di Depan Makam Presiden Ri 1 Ir.Soekarno di Kota Blitar dan Foto Bersama Wali Kota Blitar, H. Syauqul Muhibbin,S.H.I serta Wakil Wali Kota Blitar yaitu Elim Tyu Samba, 21 Juni 2026.

Perjalanan berikutnya membawa rombongan menuju Pura Penataran Luhur Medang Kemulan di wilayah Jawa Timur. Setibanya di lokasi, peserta melaksanakan simakrama dan Dharmatula bersama Romo Sepuh Satya Bhuwana Medang Kemulan ditemani Romo Sepuh Istri Satya Bhuwana Medang Kemulan. Dalam suasana penuh kekeluargaan, peserta memperoleh wejangan spiritual, melakukan persembahyangan bersama serta persembahan pada Keluhuran Leluhur Nusantara, menerima tirtha dan bija, serta melaksanakan sungkem di Pura Medang Kemulan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur dan guru spiritual.

Kegiatan persembahyangan di Pura Medang Kemulan yang berlangsung hingga malam hari menjadi penutup rangkaian Tirtha Yatra sebelum rombongan kembali menuju Bali melalui Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Seluruh rangkaian perjalanan dinilai berhasil memberikan pengalaman Spiritual, Kebangsaan dan Kebhinnekaan, serta Kepedulian sosial yang mendalam bagi seluruh peserta.
Aksi Nilai-Nilai 4 Jati Diri
Kegiatan Tirtha Yatra yang dilaksanakan oleh Yayasan Rumah Kebangsaan dan Kebhinnekaan (Rumah KaKeK) Pasraman Satyam Eva Jayate memiliki nilai makna yang lebih dibandingkan perjalanan pada umumnya. Program ini berhasil memadukan empat dimensi utama yang selama ini menjadi fondasi pengembangan sumber daya manusia, yaitu spiritualitas, kemanusiaan, nasionalisme, dan progresivitas. Pendekatan tersebut sejalan dengan empat jati diri KMHDI, yakni Religius, Humanis, Nasionalis, dan Progresif.
Dari sisi Religius, perjalanan ini memperkuat pemahaman peserta terhadap jejak sejarah perkembangan Hindu Nusantara melalui kunjungan ke berbagai Pura Hindu yang memiliki nilai historis dan spiritual tinggi. Kehadiran para Romo dan Pemangku serta Sulinggih dalam memberikan penjelasan langsung turut memperkaya wawasan peserta mengenai warisan leluhur yang masih hidup hingga saat ini.
Pada aspek Humanis, kegiatan kerja bakti membersihkan Pura Hindu, dukungan konsumsi dan akomodasi dari jaringan alumni KMHDI, serta interaksi lintas daerah menunjukkan adanya budaya gotong royong yang kuat. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang juga mencerminkan praktik nyata nilai Kebhinnekaan yang menjadi identitas bangsa Indonesia.
Humanis yaitu dengan kerja bakti bersama membersihkan areal Pura Hindu, membantu Juru Sapuh, serta membangun rasa saling peduli sesama kemanusiaan dalam kegiatan Tirtha Yatra. Kemudian kemanusiaan saling peduli antar alumni KMHDI di Banyuwangi yang menyediakan konsumsi makan siang, dan juga alumni KMHDI di Singosari Malang atas kesediaan dan dukungannya dengan menyediakan akomodasi penginapan di wantilan Pura serta sarapan pagi bagi seluruh peserta. Sisi Humanis juga simakrama dan ramah tamah bersama Wali kota Blitar dan Wakil Wali Kota Blitar, serta Forkompinda Kota Blitar, seusai upacara peringatan wafatnya "Haul" Bung Karno bersama seluruh peserta Rumah Kebangsaan dan Kebhinnekaan (Kakek) Pasraman Satyam Eva Jayate, yang terdiri dari Generasi Pemuda-Pemudi, Mahasiswa-mahasiswi berbagai suku , agama, dan ras antar golongan (SARA) yang turut menggunakan ikat kepala dari Sabang - Merauke dan Miangas Hingga Rote , dengan penuh semangat, seperti Kutipan Pidato Presiden RI 1 Ir.Soekarno , "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

Sementara itu, dimensi Nasionalis terlihat jelas melalui partisipasi dalam Peringatan 56 tahun Wafatnya "Haul" Bung Karno. Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan sarana pendidikan karakter yang menghubungkan generasi muda dengan sejarah perjuangan bangsa. Nilai Nasionalis yaitu dengan mengunjungi Perayaan Wafatnya "Haul" Presiden RI 1 Ir.Soekarno yang dimakamkan 21 Juni 1970 di Blitar , bersebelahan dengan Pusara makam dari kedua orang tua Bung Karno, sang Proklamator Negara Indonesia.
Sisi Nasionalis para peserta juga terbangun dengan mengunjungi perpustakaan Bung Karno dan Bung Hatta, serta istana Gebang masa kecil dan masa remaja kehidupan Bung Karno di rumahnya di Kota Blitar. Kunjungan ke perpustakaan dan rumah masa kecil Bung Karno memperkuat pemahaman bahwa nasionalisme harus dibangun melalui pengetahuan dan keteladanan.

Aspek progresif tercermin dari munculnya berbagai gagasan dan jaringan kolaborasi yang lahir selama perjalanan. Dukungan juga datang dari Gubernur Provinsi Bali Dr.Ir.Wayan Koster,M.M Kepada Yayasan Rumah Kebangsaan dan Kebhinnekaan (KaKeK) Pasraman Satyam Eva Jayate, Gubernur Bali juga memberi semangat kepada 45 peserta karena bisa menghadiri langsung peringatan Haul Bung Karno ke kota Blitar. Salah satu yang menarik adalah apresiasi Pemerintah Kota Blitar yaitu Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin,S.H.I terhadap keterlibatan generasi muda-mudi dan mahasiswa dari berbagai suku dan daerah di Indonesia yang terhimpun dalam Rumah Kakek Pasraman Satyam Eva Jayate dalam peringatan Haul Bung Karno ke 56, serta munculnya gagasan dari "Guru Wisesa" Mas Ibin sebagai Wali Kota Blitar yang mengijinkan agar pemanfaatan rumah jabatan Wali Kota Blitar bisa sebagai pusat kegiatan pada penyelenggaraan berikutnya di Tahun 2027. Hal ini menunjukkan bahwa Tirtha Yatra tidak berhenti pada ritual dan refleksi, tetapi juga menjadi ruang lahirnya inovasi sosial dan penguatan jejaring Kebangsaan dan Kebhinnekaan.
45 Peserta Tirtha Yatra Rumah Kebangsaan Dan Kebhinnekaan (KaKeK) Pasraman Satyam Eva Jayate Di Pura Agung Blambangan, Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur, 20 Juni 2026, sumber foto : Dokumentasi Panitia Rumah KaKek
Tirtha Yatra yang merupakan Perjalanan Ke tempat Suci Hindu untuk memperoleh Air Suci "Amertha" yang diselenggarakan oleh Rumah Kebangsaan dan Kebhinnekaan (KaKeK) Pasraman Satyam Eva Jayate sangat bermakna , yang berlangsung pada 20–22 Juni 2026 diikuti oleh 45 peserta dengan mengunjungi enam pura di Bali dan Jawa Timur, yakni Penyawangan Pura Rambut Siwi di Kabupaten Jembrana Bali, Pura Agung Blambangan di Kabupaten Banyuwangi, Pura Kawitan Alas Purwo, Pura Luhur Giri Salaka di Kabupaten Banyuwangi, Pura Bhuvana Kertha Singosari di Kabupaten Malang, dan Pura Penataran Luhur Medang Kemulan di Kabupaten Gresik. Selain melaksanakan persembahyangan, peserta juga melakukan kerja bakti, penyerahan dan penanaman bibit pohon bunga, serta menghadiri peringatan Haul Bung Karno di Blitar yang dilanjutkan dengan kunjungan ke Perpustakaan Bung Karno dan Istana Gebang. Kegiatan ini menjadi perpaduan antara penguatan spiritual, pelestarian lingkungan, pendidikan sejarah, dan pembentukan karakter Kebangsaan bagi Sumber Daya Manusia (SDM) generasi penerus Bangsa Indonesia.
Menurut Ketua Yayasan Pasraman Satyam Eva Jayate I Ketut Udi Prayudi, adapun Rumah Kebangsaan Dan Kebhinnekaan (KaKeK) Pasraman Satyam Eva Jayate yang berlokasi di Jalan Trengguli Gang IV D Nomor 3, Kelurahan Penatih, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, Provinsi Bali ini secara data buku tamu register update 20 Mei 2026 di Hari Kebangkitan Nasional , bangunan gedung 3 lantai berwarna "Tri Datu" Merah Putih Hitam Pasraman Satyam Eva Jayate ini telah digunakan oleh lebih dari 100 organisasi dan komunitas serta lembaga dalam berbagai kegiatannya.
Secara keseluruhan, Tirtha Yatra Rumah Kebangsaan Dan Kebhinnekaan (KaKeK) Pasraman Satyam Eva Jayate 20–22 Juni 2026 dapat dipandang sebagai model pendidikan karakter berbasis Spiritualitas dan Kebangsaan serta Kebhinnekaan yang relevan bagi generasi penerus bangsa Indonesia. Perjalanan ini membuktikan bahwa penguatan identitas keagamaan dapat berjalan seiring dengan penguatan nilai kebangsaan, pelestarian budaya, kepedulian lingkungan, serta pembangunan jejaring sosial yang inklusif dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber dan Foto : www.hindukupang.com, Rygun, Pasraman Satyam Eva Jayate Bali , Alumni KMHDI , serta Dokumentasi Panitia Rumah KaKeK
Kumpulan Foto Tirtha Yatra 6 Pura Hindu Di Jawa Dan Peringatan 56 Tahun Wafatnya "Haul" Presiden RI 1 Ir.Soekarno : Kunjungi Disini (File Google Drive).
Dokumentasi Foto-Foto Kegiatan Dari Rumah Kebangsaan dan Kebhinnekaan (KaKek) Pasraman Satyam Eva Jayate Kunjungi Disini (File Google Drive).
Baca Juga : Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 22 June 2026
- Hits: 561

Upacara Hindu Piodalan Agung Tahun ke-10 Pura Oebanantha Kupang : Wujud Bhakti dan Pelaksanaan Yadnya Umat Hindu Kupang NTT
HinduKupang.com, NTT – Umat Hindu Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mempersiapkan pelaksanaan Piodalan Agung Tahun ke-10 (Nugtug Karya) Pura Oebanantha yang akan mencapai puncaknya pada Rahina Hari Suci Galungan, Buda Kliwon Dungulan, Rabu 17 Juni 2026 mendatang. Pura Oebananta yang termasuk Padma Bhuwana Nusantara wilayah Tenggara Indonesia ini berdiri sejak 1950an di areal Oeba-Fatubesi, sejarah mencatat di tahun 1979 pernah dilakukan Upacara Ngenteng Linggih, dan pada september tahun 2016 juga telah dilaksanakan Upacara Mendem Pedagingan dan Ngenteg Linggih Pura Oebananta, dan saat ini tepat 10 tahun (2016-2026) menjelang Puncak Hari Suci Galungan sekaligus dilaksanakan Perayaan Hari Piodalan Agung Pura Oebananta. Rangkaian kegiatan yang telah disusun Panitia Pelaksana PHDI Kota Kupang bersama PSN Korwil NTT dan pengempon pura Oebananta ini berlangsung hampir tiga bulan, dimulai sejak April hingga penutupan upacara pada Umanis Galungan 18 Juni 2026. Seluruh tahapan tersebut merupakan pelaksanaan Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Bhuta Yadnya yang sarat makna spiritual, pengabdian, dan kebersamaan umat dalam memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasi-Nya.
Pada 30 April 2026, umat Hindu Kupang memulai persiapan alat dan bahan upacara berupa usuk, bambu, triplek, pelepah kelapa, slepan, lontar, serta berbagai kebutuhan untuk pembuatan banten dan caru. Tahapan ini menjadi fondasi awal pelaksanaan yadnya karena seluruh sarana upacara dipersiapkan dengan penuh kesungguhan sebagai bentuk persembahan yang tulus dan suci kepada Tuhan. Dalam ajaran Hindu, kesucian yadnya tidak hanya terletak pada pelaksanaan ritual, tetapi juga pada niat dan proses persiapannya.
Memasuki 29–30 April 2026, umat melaksanakan kegiatan mereresik atau pembersihan pelinggih, alat-alat upacara, serta lingkungan pura. Pada kesempatan yang sama dilakukan persiapan lubang untuk pelaksanaan caru enam tempekan. Kegiatan ini melambangkan proses penyucian alam sekala dan niskala agar seluruh rangkaian karya dapat berlangsung dengan harmonis. Selanjutnya pada 1 Mei 2026, dilaksanakan prosesi Dewasa Nanceb dan Mecaru 6 Tempekan, yang bertujuan menyeimbangkan kekuatan alam dan menetralisir energi negatif sebelum memasuki tahapan karya yang lebih besar.
Sejak 2 hingga 12 Mei 2026, umat Hindu bergotong royong melaksanakan ngayah membangun berbagai wewangunan upacara seperti Penegteg, Sanggah Surya, Sanggah Agung, Tetaring Pewedan, Tetaring Gedong, Sunari, hingga berbagai pawedan dan sanggah pendukung lainnya. Seluruh sarana tersebut harus selesai paling lambat 12 Mei 2026 sebagai bagian dari kesiapan fisik dan spiritual menjelang piodalan. Semangat ngayah yang ditunjukkan umat mencerminkan ajaran Hindu tentang pengabdian tanpa pamrih sebagai bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pada periode 13 Mei hingga 10 Juni 2026, kegiatan dilanjutkan dengan proses ngulapin sarwa wewangunan atau penyempurnaan seluruh bangunan upacara. Pada saat yang sama, kaum ibu membuat berbagai jenis banten seperti Sanganan Suci, Sanganan Pule Gembal, Sanganan Bebangkit, dan Sanganan Catur, sedangkan kaum bapak mempersiapkan rak banten, katikan sate caru, serta perlengkapan lainnya. Pembagian tugas tersebut menggambarkan keseimbangan peran umat dalam mewujudkan yadnya yang sempurna.
Tahapan penting berikutnya berlangsung pada 1 Juni 2026, ketika para Serati Banten dari Bali tiba di Kupang untuk membantu persiapan upacara. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas dan kesakralan sarana upakara yang akan digunakan selama piodalan. Kemudian pada 6 Juni 2026, umat melaksanakan ngayah membuat bahan Upakara dan Upacara Caru (Eteh-Eteh Caru) sebagai bagian dari persiapan Bhuta Yadnya.
Pada 7 Juni 2026, panitia bersama perwakilan umat melaksanakan prosesi Nunas Toya Pekuluh di Pura Giri Suci Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan serta Nunas Toya Anyar di Baumata Kabupaten Kupang. Tirta yang diperoleh dari prosesi ini memiliki makna sebagai simbol kehidupan dan penyucian. Dalam ajaran Hindu, air suci diyakini sebagai media anugerah Tuhan yang membersihkan lahir dan batin umat sebelum memasuki puncak karya.
Memasuki 8–9 Juni 2026, umat Hindu Kupang kembali bergotong royong membuat lima buah penjor dan berbagai kebutuhan bumbu upacara. Selanjutnya pada 10 Juni 2026, Ratu Pedanda / Sulinggih Pandita Bodha dari Bali tiba di Kupang. Pada hari yang sama dilaksanakan pemasangan wastra, pemasangan penjor, serta pembuatan ulam caru sebagai bagian dari persiapan akhir menjelang dimulainya tahapan inti karya.


Rangkaian upacara memasuki fase yang lebih sakral pada 11 Juni 2026 melalui prosesi Nuasen Karya dan Ngingsah Beras, yang menandai dimulainya pelaksanaan karya secara spiritual. Pada hari yang sama umat mulai melaksanakan Mekemit, yaitu bermalam di pura sambil berdoa, bermeditasi, dan menjalankan pelayanan spiritual. Mekemit berlangsung hingga 17 Juni 2026, memberikan kesempatan kepada umat untuk memperdalam bhakti dan kedekatan rohani dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pada 12 Juni 2026, panitia melakukan pengecekan terakhir terhadap seluruh sarana upacara dan memastikan seluruh wewalungan telah siap digunakan. Kemudian pada 13 Juni 2026, umat melaksanakan pemasangan wastra pada wewalungan, kegiatan mepepada hewan dan binatang (Wewalungan), dan pembuatan ulam caru. Seluruh tahapan ini bertujuan menyempurnakan persiapan menjelang pelaksanaan ritual utama.


Momentum penting berikutnya berlangsung pada 14 Juni 2026, bertepatan dengan Tilem Sadha, ketika dilaksanakan prosesi Mecaru Rsi Gana, yang dipimpin oleh Sulinggih / Pandita Bodha yaitu Ida Pedanda Istri Ratna Kania dari Nongan Karangasem Bali, dan Pandita Siwa dari Kupang NTT yaitu Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba. Upacara ini merupakan bagian dari Bhuta Yadnya yang bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan-kekuatan alam semesta. Melalui Mecaru, upacara Bhuta Yadnya kemudian dilanjutkan Upacara Dewa Yadnya yang dipimpin oleh Sulinggih Bodha dan Sulinggih Siwa, guna memohon keharmonisan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, serta keselamatan, ketentraman jagat bagi seluruh masyarakat dan lingkungan sekitar.
Pada 15 Juni 2026, dilaksanakan kegiatan pemotongan babi untuk keperluan upakara serta Santi Puja pada malam harinya. Selanjutnya pada 16 Juni 2026, umat melaksanakan Melasti, yaitu ritual penyucian diri dan seluruh sarana upacara dengan memohon pembersihan segala kekotoran lahir dan batin. Pada hari yang sama juga dilakukan pembuatan Bebangkit dan "Gayah" sebagai bagian dari persiapan puncak karya. Melasti menjadi simbol perjalanan spiritual manusia menuju kesucian sebelum menghadap Tuhan dalam persembahyangan utama.

Puncak Piodalan Agung Tahun ke-10 Pura Oebanantha berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2026, bertepatan dengan Hari Raya Galungan, yang bermakna Kemenangan Dharma (Kebenaran) melawan Adharma (Ketidakbenaran), dimana siklus 210 hari Pawukon yang tepat istimewanya di tahun 2026 ini setahun sekali Galungan yaitu pada Rabu (Buda) Kliwon Wuku Dungulan.

Sejak pagi hari seluruh panitia dan umat Hindu Kupang melaksanakan persiapan akhir sebelum kegiatan piodalan dimulai. Pada siang hari, Tapakan Ida Bhatara dari Pura Agung dijadwalkan tiba di Pura Oebanantha, disusul kehadiran Wali Kota Kupang sebagai Guru Wisesa, Pemerintah Daerah sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya dan kehidupan keagamaan umat Hindu di Nusa Tenggara Timur. Puncak piodalan ini menjadi momentum spiritual tertinggi yang mempertemukan nilai bhakti, tradisi, dan kebersamaan umat dalam satu persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.



Sebagai penutup rangkaian karya, pada 18 Juni 2026 dilaksanakan prosesi Nganyarin dan Nyineb yang dipuput oleh Rsi Bojana dalam wujud Rsi Yadnya. Prosesi ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian yadnya sekaligus mengembalikan energi sakral yang telah dihadirkan selama upacara ke tempat dan kedudukannya masing-masing sesuai tata ritual Hindu. Dengan demikian, Piodalan Agung Tahun ke-10 Pura Oebanantha tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun pura, tetapi juga manifestasi nyata ajaran Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber dan Foto : www.hindukupang.com, grup whatsapp Hindu Kupang, dan Dewa Putra Utama (Alumni PD.KMHDI NTT)
Kumpulan Foto-Foto Kegiatan bisa Kunjungi Disini.

Baca Juga : Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali
Baca Juga : Lokakarya Penguatan Empat Pilar Pembangunan Manusia Hindu Digelar Di Kupang NTT
Baca Juga : Rayakan HUT ke-38, WHDI Kota Kupang Gelar Turnamen Bulu Tangkis dan Berdayakan UMKM
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama Dari Nusa Tenggara Timur Teguhkan Persatuan Gotong Royong Dan Komitmen Kemanusiaan
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando
Baca Juga : Bhakti Untuk Regenerasi, MPAB ke XX Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT : "Melahirkan Kader Hindu Berjiwa Pemimpin”
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 15 June 2026
- Hits: 502

















.jpg)









