Home
Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando

HinduKupang.com, NTT , Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar doa bersama lintas agama di halaman Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT, Minggu (31/8/2025) malam. Acara ini menjadi wadah kebersamaan seluruh elemen masyarakat, menandai pentingnya persatuan dan solidaritas di tengah dinamika bangsa.
Doa bersama yang dimulai pukul 19.30 Wita itu dihadiri Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena,S.Si.,Apt, Wakil Gubernur NTT Irjen Pol.(Purn) Johni Asadoma, Pimpinan Ketua DPRD Provinsi NTT Ir.Emelia Julia Nomleni, Forkopimda, Tokoh Agama, hingga ratusan undangan. Kehadiran mereka mencerminkan komitmen bersama menjaga keharmonisan dan kedamaian daerah.
Suasana berlangsung hening dan khidmat. Lantunan doa bergantian dipimpin pemuka agama Katolik, Protestan, Islam, Hindu, dan Buddha. Kehadiran lintas iman ini memperlihatkan betapa kuatnya semangat toleransi yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat NTT.
Para umat yang hadir larut dalam keheningan malam. Doa-doa yang terucap sesekali terdengar lirih, berpadu dengan tiupan angin di Kota Kupang. Atmosfer itu semakin menguatkan nuansa kebersamaan dan kerinduan akan perdamaian. “Jaga kami Tuhan, pulihkan negeri ini. Jauhkan kami dari kejahatan yang memecah belah,” doa salah satu tokoh agama. Seruan ini disambut lantunan doa pemuka agama lain, menandakan kesatuan suara demi Indonesia yang damai.
Ratusan hadirin tampak berbaris rapi sejak halaman depan hingga gerbang Kantor Gubernur. Pakaian putih yang dipadu dengan celana hitam mendominasi suasana, menjadi simbol kesederhanaan, persatuan, dan niat tulus menjaga kebersamaan.

Puncak acara ditandai dengan pembacaan deklarasi damai bersama. Setelah itu, hadirin melantunkan lagu “Indonesia Tanah Air Beta” dan “Padamu Negeri”, menutup rangkaian doa dengan penuh haru dan semangat kebangsaan.
Dalam kesempatan itu, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan melarang masyarakat menyampaikan aspirasi melalui demonstrasi. Namun, ia menekankan bahwa segala bentuk kerusuhan tidak akan diberi ruang.
“Demonstrasi boleh, menyuarakan pendapat boleh, ke DPRD boleh, ke Polda boleh, ke Pemprov pun silakan. Tapi harus damai. Kalau ada perusuh, kita tindak,” ujar Melki dengan tegas. Pesan ini menegaskan komitmen demokrasi sekaligus menjaga ketertiban umum.
Melki mengingatkan bahwa NTT selama ini dikenal sebagai daerah yang aman dan damai. Menurutnya, tidak pernah ada sejarah kerusuhan hanya karena persoalan yang bisa diselesaikan lewat dialog. Ia memastikan pemerintah terbuka untuk berdialog dengan semua pihak.
Forkopimda, tokoh agama, dan tokoh masyarakat pun sepakat menjaga stabilitas daerah. Gubernur Melki meminta masyarakat segera melapor jika ada pihak yang mencoba memicu kerusuhan. “NTT tidak punya tempat bagi perusuh,” tegasnya.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) NTT, Dr. Wayan Darmawa, dalam sambutan khususnya mengingatkan agar masyarakat menjauhkan diri dari amarah dan menumbuhkan kebahagiaan. Ia menekankan pentingnya cinta kasih, kebersyukuran, dan kedewasaan dalam menghadapi ujian kehidupan.
Dalam suasana doa bersama lintas agama, ketua PHDI NTT Bapak Wayan Darmawa mengajak seluruh masyarakat untuk memaknai kondisi yang terjadi sebagai ujian dari Tuhan. Ia menekankan pentingnya menyikapi setiap peristiwa dengan cinta kasih, kedamaian, serta kedewasaan dalam bertindak.
Seruan itu sekaligus menjadi pengingat agar masyarakat NTT dan Indonesia pada umumnya terus menjaga persaudaraan, menghindari amarah, dan mengedepankan sikap saling menghargai. “Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberkati kita semua di NTT dan memberkati bangsa Indonesia,” ujarnya.
Dalam doa yang dilantunkan Ketua PHDI NTT dengan penuh khidmat, ia memohon ampun kepada Tuhan atas segala kesalahan pikiran, perkataan, maupun perbuatan, baik secara pribadi, profesi, maupun sebagai bangsa. Ia juga berdoa agar masyarakat dibimbing meninggalkan jalan yang salah menuju kebenaran, dari kegelapan pikiran menuju cahaya pengetahuan.
Doa tersebut juga memohon agar bangsa Indonesia dilepaskan dari segala kedukaan dan bencana, serta dianugerahi kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera sesuai kehendak Tuhan. Untaian doa itu ditutup dengan mantra perdamaian, “Om Santi, Santi, Santi Om”, Damai Di Hati, Damai Di Dunia, Damai Selamanya menggema sebagai simbol harapan dan ketenangan bagi masyarakat NTT dan seluruh Wilayah Indonesia.
Doa yang dipanjatkan Ketua PHDI NTT menggema penuh makna. Ia memohon agar bangsa Indonesia dibimbing keluar dari kegelapan menuju cahaya pengetahuan, serta dijauhkan dari bencana dan kesedihan. Doa itu menutup malam penuh hikmat dengan harapan bagi kedamaian NTT dan Indonesia.(Guntara)
Editor : RyGuN
Sumber Foto : Dinas Kominfo NTT.
VIDEO Doa Bersama Untuk Negeri Kunjungi Disini

Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 31 August 2025
- Hits: 631
Sanggar Saraswati Tarian "Soka Toja" Raih Juara 1 Lomba Tarian Daerah Seluruh Kota Kupang 2025 Dalam Acara Panggung Budaya Pameran Pembangunan Semarak HUT RI Ke 80 Tahun

Sanggar Saraswati Dari Sekolah Dasar (SD) Hindu Adi Widyalaya Saraswati Raih Juara 1 Lomba Tarian Daerah Seluruh Kota Kupang 2025 Dalam Acara Panggung Budaya Pameran Pembangunan Menyambut Semarak HUT RI Ke 80 Tahun (14 Agustus 2025)
Hindukupang.com, NTT – Suasana Panggung Pentas Budaya NTT BAGAYA dalam Pameran Pembangunan di Lapangan Hotel Harper pada Kamis 14 Agustus 2025, jam 17:00wita sore hingga malam hari dipenuhi warna-warni kain tradisional, denting musik khas Nusa Tenggara Timur, dan semangat para pelajar. Dalam rangka memeriahkan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang menggelar Lomba Tarian Daerah Antar Pelajar tingkat SD/MI dan SMP/MTs se-Kota Kupang Tahun 2025.
Panggung megah yang Mengusung tema NTT BaGaYa : “Bangun Generasi Angkat Kreativitas Yakin Berkarya”, dan menjadi bagian dari Pameran Pembangunan ini menjadi saksi hadirnya puluhan peserta dari berbagai sekolah. Salah satunya adalah SD Adi Widyalaya Saraswati yang tampil membawakan tarian tradisional Hegong “Soka Toja” dari Kabupaten Sikka, Flores.
Tarian Hegong “Soka Toja” memiliki makna kultural yang mendalam. Dalam tradisi masyarakat Sikka, tarian ini kerap dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan sekaligus mengajak mereka turut menari bersama. Gerakannya yang dinamis dipadu dengan irama musik lokal gong waning menciptakan suasana hangat dan penuh kebersamaan.
VIDEO PENAMPILAN TARIAN HEGONG SOKA HOJA DARI SANGGAR SARASWATI KUNJUNGI DISINI
Menurut sejarahnya, tarian ini berkembang di wilayah Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan simbol keramahan dan penghormatan masyarakat Sikka kepada para tamu. Awalan tarian biasanya diawali seruan bahasa daerah: “Eeee… Mai Sai, Mai Ita Soka Hama-Hama”, yang berarti ajakan untuk bergabung dan menari bersama.

Dalam penampilan kali ini, para penari dari "Sanggar Saraswati" asuhan SD Adi Widyalaya Saraswati tampil anggun dengan balutan busana adat Sikka. Penari perempuan mengenakan labu tengge, busana khusus anak-anak perempuan dalam tradisi setempat. Sementara penari laki-laki mengenakan labu lipa mitan, dilengkapi lensu dan semba, serta membawa ikun atau sapu tangan sebagai properti tari. Penampilan mereka kian berkesan berkat busana adat Sikka Pulau Flores NTT yang autentik.
Delapan siswa terpilih menjadi duta seni sekolah mereka. Mereka adalah Dewa Ayu Mas Suhitatridevi Dewanta, Kadek Denaya Putri Gangga Maheswari, Komang Devania Maharini Wijaya, Kadek Sabrina Putri Wicaksana, Ni Kadek Legita Ishana Maheswari, Ni Ketut Revnys Diana Gayatri, Septiera Cinthia Sukma Wati, dan satu-satunya penari laki-laki, dan I Kadek Anantawijaya Putra, satu-satunya penari laki-laki dalam tim.
Kehadiran mereka di panggung tidak hanya membawa misi menghibur penonton, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda di Provinsi NTT. Guru pendamping, Asmi Susanti Laiboys, S.Pd, mengaku bangga anak-anak didiknya dapat tampil di ajang sebesar ini. “Mereka berlatih berbulan-bulan. Bukan hanya menghafal gerakan, tapi memahami makna di balik setiap langkah tari,” ujarnya.
Dari pinggir panggung, tabuhan gong waning menggema, memandu ritme gerakan penari. Suara alat musik ini berpadu harmonis dengan tepuk tangan penonton yang mengikuti alunan lagu. Sorakan dan dukungan terdengar setiap kali penari melakukan formasi tertentu yang memukau.
Selain memamerkan keterampilan, lomba ini menjadi ruang edukasi budaya. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, yang hadir langsung di lokasi, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui pelestarian budaya lokal. “Anak-anak kita harus mengenal dan bangga dengan tarian daerah. Ini adalah identitas kita,” tegasnya.
Tarian Hegong “Soka Toja” bukan hanya menyuguhkan gerak yang indah, tapi juga mencerminkan nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan keterbukaan menerima orang baru. Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat kemerdekaan yang dirayakan dalam HUT RI ke-80 tahun ini.
Meski berada dalam suasana kompetisi, para peserta menunjukkan sportivitas. Sekolah-sekolah dari berbagai penjuru Kota Kupang saling memberikan dukungan. Nuansa kekeluargaan terasa, seakan panggung bukan medan persaingan, melainkan tempat berbagi kebahagiaan.
Penampilan "Sanggar Saraswati" dari Sekolah Dasar Hindu Adi Widyalaya Saraswati menjadi salah satu sorotan sore itu. Kostum yang mencolok, gerakan yang kompak, dan penghayatan yang kuat membuat penonton betah menyaksikan hingga akhir. Tak sedikit penonton yang ikut bergoyang mengikuti alunan musik.
Ketika tarian usai, tepuk tangan riuh menggema di seluruh area panggung. Bagi para penari cilik ini, pengalaman tampil di panggung besar menjadi kenangan tak terlupakan. Lebih dari sekadar lomba, mereka telah menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya, menghidupkan tradisi, dan merayakan kemerdekaan dengan cara yang paling indah menari bersama.
Guru pendamping, Asmi Susanti Laiboys, S.Pd., menyampaikan rasa bangganya. “Mereka berlatih berbulan-bulan. Bukan hanya menghafal gerakan, tapi memahami makna di balik setiap langkah tari,” ujarnya. Latihan yang intens membuat setiap detail penampilan terlihat rapi dan kompak.
Dari sisi panggung, denting gong waning berpadu dengan riuh tepuk tangan penonton. Alunan musik khas Maumere itu menjadi pengiring ritme gerakan para penari. Setiap perubahan formasi dan hentakan kaki disambut sorakan kagum dari penonton.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang yang hadir langsung menegaskan pentingnya pelestarian budaya lokal melalui ajang seperti ini. “Anak-anak kita harus mengenal dan bangga dengan tarian daerah. Ini adalah identitas kita,” katanya, disambut anggukan para orang tua yang hadir.
Tarian Hegong “Soka Toja” tidak sekadar menyajikan keindahan gerak, tetapi juga memancarkan pesan kebersamaan dan keramahan. Dalam tradisi Sikka, tarian ini digunakan untuk menyambut tamu dan mengajak mereka menari bersama, mencerminkan keterbukaan serta persaudaraan yang menjadi ciri masyarakat setempat.
Meski acara berlangsung dalam suasana kompetisi, nuansa persaudaraan tetap terasa. Sekolah-sekolah dari berbagai penjuru Kota Kupang saling memberi semangat dan apresiasi. Panggung terasa lebih sebagai ruang berbagi kegembiraan daripada arena persaingan semata.
Saat pengumuman pemenang, ketegangan pun pecah menjadi sorak kegembiraan. “Sanggar Saraswati” berhasil meraih Juara 1 utama kategori SD/MI. Prestasi ini menjadi buah manis dari kerja keras dan dedikasi seluruh tim.
Kepala Sekolah SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang NTT, Ni Nyoman Suparwati,S.Pd., dalam wawancara bersama media www.Hindukupang.com menyampaikan rasa syukurnya. “Anak-anak tampil luar biasa. Kostum yang mencolok, gerakan yang kompak, dan penghayatan yang kuat membuat penonton betah menyaksikan hingga akhir,” ujarnya.
Penampilan itu bahkan membuat sebagian penonton ikut bergoyang mengikuti irama musik. Momen ini menjadi bukti bahwa seni tradisi masih mampu menjembatani generasi dan mempersatukan orang dari berbagai latar belakang.
Dengan prestasi tersebut, “Sanggar Saraswati” Sekolah Dasar (SD) Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang yang juga memiliki Akreditasi "A" ini akhirnya membawa Predikat Juara 1 dalam Lomba Tarian Daerah Antar Pelajar Sekolah Dasar SD/MI dan SMP/MTS seluruh Kota Kupang Tahun 2025, dan mengukir sejarah kecil di hati penonton dalam semarak sambut Dirgahayu ke 80 Tahun Kemerdekaan RI di Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam Semangat "Ayo Bangun NTT" Mereka Para Penari Sanggar Saraswati telah membuktikan bahwa seni budaya di Bumi FLOBAMORATA NTT, jika dilestarikan dengan cinta dan dedikasi, akan terus hidup di tengah masyarakat.(Guntara)
VIDEO PENAMPILAN TARIAN HEGONG SOKA HOJA DARI SANGGAR SARASWATI KUNJUNGI DISINI
Narasi dan editor : www.Hindukupang.com / K'Gun
Sumber Foto : Ni Nyoman Suparwati,S.Pd , Kepala Sekolah Dasar (SD) Adi Widyalaya Saraswati
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 14 August 2025
- Hits: 618
"Guru Wisesa" Gubernur NTT Bersama Wakil Gubernur NTT Buka Perayaan HUT RI ke 80 Tahun Dengan Semangat Ayo Bangun NTT Dalam Acara Kirab Budaya NTT "BaGaYa" : Bangun Generasi Angkat Kreativitas Yakin Berkarya Tahun 2025

HinduKupang.com, NTT – Parade Kirab Budaya Menyambut Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 Tahun di Provinsi Nusa Tenggara Timur dibuka secara resmi oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena,S.Si.,Apt Bersama Wakil Gubernur NTT Irjen Pol.(Purn) Drs.Johanis Asadoma,S.I.K.,M.Hum, dan Ketua DPRD NTT Ibu Ir.Emelia Julia Nomleni, pada hari rabu, 13 Agustus 2025 di depan Rumah Jabatan Gubernur NTT. Hadir pula Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Franscies, S.Sos., M.Sc., jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) tingkat provinsi dan kota, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Tingkat Provinsi NTT, Brimob, POLDA NTT, TNI, Drumband Siswa Siswi SMA dan SMK , Paguyuban Berbagai Etnis Sulawesi Selatan, Minangkabau, "Banjar Dharma Agung Kupang (BDAK) Paguyuban Etnis Bali (Hindu) di Kupang NTT, serta Universitas di Kota Kupang, insan jurnalis pers media, dan seluruh masyarakat.


Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar Kirab Budaya bertajuk "NTT Bagaya Merayakan Warisan Menyongsong Masa Depan", serta Mengusung tema NTT BaGaYa : “Bangun Generasi Angkat Kreativitas Yakin Berkarya”, kirab budaya yang diikuti oleh 80 peserta ini menjadi simbol kebangkitan semangat berkarya di tengah masyarakat. Kegiatan ini mencerminkan tekad bersama untuk membangun daerah melalui Budaya, kreativitas, inovasi, dan kolaborasi antara pemerintah, swasta, serta masyarakat.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam sambutannya menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar seremoni peringatan kemerdekaan. “Kirab budaya dan pameran ini adalah refleksi capaian pembangunan, wadah promosi potensi daerah, serta ruang bagi pelaku UMKM untuk menampilkan karya terbaik mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan NTT harus dibangun melalui penguatan kreativitas lokal, melestarikan budaya NTT, pengembangan ekonomi mikro, dan keterlibatan masyarakat akar rumput. “Sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan NTT yang mandiri dan berdaya saing,” tegas Gubernur NTT Melki.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menggelar Kirab Budaya bertajuk “NTT Bagaya Merayakan Warisan Menyongsong Masa Depan” dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebanyak 80 kelompok peserta dari instansi pemerintahan, sekolah, dan paguyuban etnis turut ambil bagian dalam pawai budaya ini. Kirab dilepas secara resmi oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, yang mengajak seluruh masyarakat untuk mengenang perjuangan para pahlawan bangsa.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan, kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari penjajah, melainkan buah perjuangan panjang yang ditempa oleh pengorbanan rakyat dari berbagai suku, agama, dan latar belakang. “Kemerdekaan ini adalah bagian dari perjuangan seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Nusa Tenggara Timur,” ujarnya. Tahun ini, kirab budaya mengusung semangat baru dengan menghubungkan warisan budaya lokal dan konsep pariwisata berkelanjutan (eco-cultural tourism) yang kini menjadi tren global. Para peserta menampilkan keindahan kain tenun, musik tradisional, tarian daerah, kuliner khas, dan prosesi adat dari berbagai wilayah di NTT.

Pawai kirab dimulai dari depan Rumah Jabatan Gubernur NTT, melintasi Jalan El Tari, melewati Kuanino, dan berakhir di Gereja Katedral Kristus Raja Kota Kupang. Sepanjang rute, ribuan warga tumpah ruah menyaksikan suguhan budaya dari berbagai etnis dan daerah di NTT.
Berbagai tarian adat dipersembahkan berbagai peserta Parade berbagai pulau-pulau di Nua Tenggara Timur yaitu dari Pulau Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu, Lembata, dan Adonara , yang dikenal dengan sebutan FLOBAMORATA. Gerak, kostum, dan musik tradisional yang dibawakan menjadi daya tarik tersendiri, mempertegas kekayaan budaya NTT di mata publik.
Salah satu penampilan yang menyedot perhatian adalah paguyuban etnis Bali “Banjar Dharma Agung Kupang” (BDAK) yang membawakan Sendratari Ramayana. Kisah legendaris yang sering dalam Pewayangan Nusantara ini mengisahkan perjuangan Rama yang merupakan titisan Awatara Dewa Wisnu bersama pasukan kera dan Hanoman melawan Rahwana untuk menyelamatkan Dewi Sinta.

Paguyuban etnis Bali yaitu "Banjar Dharma Agung Kupang (BDAK) sebagai perwakilan Etnis Bali (Hindu) di Kota Kupang NTT, menampilkan Sendratari RAMAYANA, yaitu kisah Rama dan Dewi Sinta, serta Rahwana dan Hanoman. Kisah Ramayana ini menceritakan Raksasa Rahwana menculik Dewi Sinta istri dari Rama, dan akhirnya terjadi perang merebut kembali Dewi Sinta di kerajaan AlengkaPura dan Rama dengan pasukan kera dan Hanonan bertempur melawan raksasa Rahwana yang kalah berperang. Akhirnya Rama berhasil berjumpa kembali dengan istrinya Dewi Sinta dan hidup berbahagia. Sendratari Ramayana diiringi Gamelan Gong "Sekehe Demen" yang dipersembahkan di hadapan Guru Wisesa, Pemimpin Daerah Gubernur NTT, Wakil Gubernur NTT , Ketua DPRD NTT dan Wakil Walikota Kupang mendapatkan tepuk tangan meriah dan apresiasi yang memukau seluruh masyarakat.



Dengan iringan gamelan gong “Sekehe Demen”, pertunjukan tersebut berhasil menghipnotis penonton, termasuk para pejabat daerah yang hadir di panggung kehormatan. Adegan pertempuran, keanggunan gerak tari, dan musik gamelan yang ritmis memancing tepuk tangan meriah dari penonton.
Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Franscies, memberikan apresiasi tinggi atas keterlibatan seluruh elemen masyarakat. “Kegiatan ini menjadi bukti bahwa keberagaman budaya adalah kekuatan NTT dalam membangun masa depan,” ujarnya.



Selain kirab, rangkaian perayaan HUT RI ke-80 di NTT juga diisi dengan pameran pembangunan yang diikuti 225 stand bertempat di lapangan Hotel Harper 11-20 Agustus 2025. Stan-stan pameran ini menampilkan capaian pembangunan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi NTT, produk UMKM, kerajinan khas, hingga inovasi layanan publik.
Ketua Panitia yang juga Kepala Dinas Kominfo Provinsi NTT, Frederik C.P. Koenunu, menjelaskan bahwa tujuan pameran ini adalah menyampaikan capaian pembangunan, mempromosikan produk lokal, serta memperkuat kecintaan pada budaya daerah. “Pameran ini adalah ruang bersama yang menghubungkan ekonomi kreatif, UMKM, dan pelestarian budaya,” katanya.
Bagi yang tidak sempat hadir langsung, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT serta Dinas Kominfo Provinsi NTT menyiarkan kirab budaya ini secara langsung melalui kanal YouTube masing-masing, Video Kunjungi Disini, agar memungkinkan masyarakat di seluruh pelosok NTT bahkan luar daerah untuk ikut merasakan kemeriahannya serta semangat Kemerdekaan "Ayo Bangun NTT".(Guntara)
Foto : Hindukupang.com / k'Gun
Editor : RyGun

Hindukupang.com : Bersama Penata Tari Sdri.Kini Kinanti Dan Kera Sakti "Hanuman" dan Rahwana Dalam Pawai Ramayana Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur , menyambut Dirgahayu Hari Kemerdekaan RI ke 80 Tahun, 13 Agustus 2025, Parade Kirab Budaya ini Dibuka Oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.


Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 13 August 2025
- Hits: 513
Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama

Sharing Dharma (ShaDhar) berbagi Sembako oleh HinduKupang.com Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Bulan Purnama Sasih Sadha 10 Juni 2025, di Keluarga Dharmika Bapak I Gusti Bawa, berjumpa dengan Ida Bhawati I Made Suaba Aryanta, di Kebun Taebenu Baumata Kupang NTT.
HinduKupang.com, NTT — Aksi Kemanusiaan Hindu Kupang Warnai Purnama Juni 2025. Hindu Kupang menggelar aksi sosial bertajuk Sharing Dharma (ShaDhar) Pawongan bertepatan dengan Bulan Purnama Sasih Sadha pada 10 Juni 2025. Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian dan Dharma kemanusiaan, menyasar umat Hindu yang membutuhkan, seperti janda, keluarga disabilitas, dan para penganut Hindu Dharmika (Penganut Hindu pemula) yang hidup dalam keterbatasan.
Momentum Bulan terang "Purnama" serta Matahari (Surya) menuju "Uttarayana" Jadi Landasan Spiritualitas kegiatan kemanusiaan Hindukupang.com yang mengikuti petunjuk "Nature code" Kode AlamNYA sesuai Sastra Tattwa Pustaka Suci Hindu "Sarasamuccaya" dalam beramal sedekah.

Sumber BMKG : Garis Balik Utara (GBU) = God Bless Us (GBU), Uttarayana (Pustaka Suci Sarasamuccaya)
Kegiatan Aksi Kemanusiaan berbagi Sembako Hindukupang.com ini digelar pada masa "Uttarayana", saat matahari bergerak ke belahan bumi utara dari garis khatulistiwa. Dalam ajaran Hindu, dan Pustaka Suci Hindu Sarasamuccaya, pada Sloka 181-183 , kemudian Sloka 187-189, sangat jelas dan tegas aturan dalam beramal sedekah.
Sarasamuccaya ≈ Sa Rasa Kamu Harus Percaya
pada Sloka 183,
Bahasa Sanskerta :
ayaneșu ca yaddattarin şadacitimukhesa ca, candrasüryoparáge ca visuve ca tadakşayam
Jawa Kuno :
Nyang cubhakala, pratyekanya, hana dakainayana ngaranya, tambe sang hyang ädityängidul, hana uttarayana ngaranya, tambe sang byang adityängalor, hana sadasitimukha ngaranya, somagraha, suryagraha, wisuwakala wisu kunang, ikang wastu dānākéna ri kāla samangkana, atisaya rakwa bhärani phalanika.
Artinya :
Inilah perincian waktu yang baik ada yang disebut daksinayana, waktu matahari mulai berkisar ke arah selatan; uttarayana, waktu mulai matahari ke arah utara; ada yang bernama saat menjelang sadaciti mukha, saat gerhana bulan atau gerhana matahari; juga waktu baik yaitu ketika matahari berada di khatulistiwa (wisuwakala); sesuatu barang yang disedekahkan pada waktu itu, bukan alang kepalang besar pahalanya.




"Uttarayana Jadi Momentum Berbagi, Hindu Kupang NTT Salurkan Sembako dan Spiritualitas" , Perpaduan aspek astronomis keagamaan dengan aksi sosial.
Periode "Waktu" Beramal dalam Sloka 181-190 Pustaka Suci Hindu Sarasamuccaya oleh Bhagawan Wararuci, ini dipercaya dan diyakini umat Hindu sebagai waktu terbaik untuk berbagi, bersedekah, dan menebar kebajikan. Ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan kasih sayang sesama dalam wujud spiritualitas yang lebih dalam dan penuh makna.

"ShaDhar Purnama : Hindu Kupang Tebar Kasih di Tengah Keterbatasan" , momen Bulan Purnama dan aksi nyata kepada umat Hindu yang membutuhkan.
Bantuan Sembako serta Dupa Sebagai Wujud Kasih disalurkan melalui berbagai donatur yang turut berpartisipasi bersama Hindukupang.com. Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pokok seperti beras 10 kilogram, minyak goreng 2 liter, minyak goreng tambahan 1 liter, satu papan telur ayam, dan Dupa untuk sembahyang. Semua bantuan ini dimaksudkan untuk meringankan beban para keluarga Hindu yang tengah berjuang dalam keterbatasan.

Dharmika Hindu Kupang sedang "Mejejahitan" Merangkai Bunga dan Wangi Daun Pandan, Canang Sari dan Buat Kwangen untuk SembaHyang sore hari Bulan Purnama Sasih Sadha 10 Juni 2025.

"Dari Dharma untuk Sesama : Bantuan Hindu Kupang Sentuh Umat Marginal" , Kepedulian dan Semangat Pelayanan Dharma dalam bentuk bantuan nyata kepada umat kecil.
Tujuh Keluarga Penerima Bantuan terpilih melalui informasi media Hindukupang. Adapun Tercatat tujuh kepala keluarga menerima bantuan ini, antara lain keluarga Bapak Wayan Sutama di Liliba, keluarga I Gusti Bawa dan Ibu Tutut Wati di Taebenu Baumata, serta Ibu Yuliana seorang janda yang menjaga tanah Banjar Dharma Agung Kupang di Lasiana. Juga keluarga Bapak Nyongki (Tim BorBor) atau tim krematorium Hindu yang berprofesi ojek online Grab Bike, serta juga Ibu Agung Rai, janda yang seorang diri masih bertahan menjadi pemeluk Hindu di Kelapa Lima walaupun beberapa anaknya sudah menikah dan beralih keyakinan.
Kemudian Bantuan juga disalurkan kepada Disabilitas Hindu dan Pekerja Swasta di Lapangan pun Tak Dilupakan. Bantuan juga menyasar keluarga Bapak Eka Kurniawan, seorang disabilitas Hindu di Alak, serta Bapak Nyoman Simpen, ojek online Maxim Hindu yang berdomisili di Belo, Kolhua. Mereka adalah simbol perjuangan umat yang tetap teguh dalam Dharma meskipun berada dalam kondisi yang serba sulit.

"Solidaritas Tanpa Nama : Donatur Hindu Kupang Bergerak untuk Umat Dharmika" , Fokus pada nilai keikhlasan dan kerja kolektif untuk kepedulian Umat.
Kegiatan aksi kemanusiaan ini dengan dukungan para Donatur Tanpa Pamrih melalui bersama Hindukupang. Dana bantuan diperoleh dari berbagai donatur yang memilih untuk tidak disebutkan namanya. Para dermawan ini percaya bahwa amal terbaik adalah yang dilakukan tanpa pamrih dan tanpa harus diketahui banyak orang apalagi para donatur juga tidak mau disebut namanya. Semangat berbagi ini mencerminkan nilai-nilai luhur dalam ajaran Hindu.
Penyaluran Berlangsung dari Pagi Hingga Petang pada 10 Juni 2025. Penyaluran bantuan dilakukan sepanjang hari, mulai pukul 09.00 hingga 18.30 WITA. Tak hanya distribusi sembako, kegiatan juga diisi dengan penguatan kerohanian dan "Sharing Dharma" untuk memberikan semangat hidup kepada para penerima bantuan.

Tanah Banjar Dharma Agung Kupang (BDAK) di Lasiana, dan Penjaga Ibu Yuliana bersama Anaknya Wayan Nurchana

ShaDhar : Berbagi Dharma dan Kasih,
Konsep "ShaDhar" atau "Sharing Dharma menjadi inti kegiatan Hindukupang.com di Ibukota Provinsi NTT ini. Tidak hanya berbagi materi, tetapi juga menyebarkan kebijaksanaan, semangat, dan dukungan spiritual kepada umat Hindu Dharma. Ini adalah bentuk sedekah spiritual yang memberi manfaat lebih luas dan mendalam.
Panggilan Kepedulian bagi Semua Organisasi dan Lembaga Hindu di Kupang maupun NTT.
Kegiatan ini menjadi panggilan moral bagi semua organisasi dan lembaga Hindu, baik di Kupang maupun Provinsi Nusa Tenggara Timur, untuk lebih peka dan proaktif mendeteksi kondisi keumatan di masyarakat, agar tidak ada umat yang terabaikan dalam kesulitan hidup.

Sedekah Bukan Hanya Materi.
Penyaluran bantuan melalui Hindukupang.com menegaskan bahwa bantuan tidak selalu dalam bentuk uang. Sedekah bisa berupa bahan makanan, dukungan moral, tenaga, waktu, bahkan hanya dengan mendengarkan keluh kesah umat. Ini adalah bentuk-bentuk cinta kasih yang harus terus dijaga dan dibudayakan.
Permasalahan "Pawongan" Umat Hindu di Kupang dan NTT pun Masih Banyak, Realita di lapangan menunjukkan masih banyak permasalahan *Pawongan* (hubungan antar manusia) umat Hindu di Kupang dan sekitarnya. Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan agar persoalan umat dapat diselesaikan sejak dini, langsung dari akar rumput, dan menjadi Tugas Bersama Para Pengurus Organisasi Umat Hindu di Kupang dan NTT.

Hindukupang.com : Penyaluran Sembako kepada Keluarga Dharmika Bapak Wayan Sutama di LiLiba (Foto Atas), Keluarga Dharmika Bapak Nyongki - oesapa, Tim BorBor Krematorium Hindu di Kupang (Foto Tengah), dan Keluarga Ibu Agung Rai (Janda Hindu) di Kelapa Lima Kota Kupang NTT (Foto Bawah), 10 Juni 2025.


Tanggung jawab besar ini tidak bisa hanya ditanggung satu pihak. Semua elemen Pengurus Organisasi umat Hindu, dari Lembaga, Pura, organisasi , pemuda, hingga lembaga keagamaan Hindu, memiliki peran penting untuk saling bahu membahu dalam membantu sesama, dalam sisi Pawongan, Sudah Cukup Parahyangan dengan upacara puluhan bahkan ratusan juta, namun sisi kepedulian Pawongan, hubungan sesama manusia masih banyak yang terabaikan, bahkan cenderung tak terdeteksi dan tak pernah mengetahui kondisi umat Hindu di level terbawah. Maka tak heran kondisi ekonomi terjepit, hingga berbagai permasalahan dan desakan depresi yang terakumulasi menjadi penyebab dari banyaknya kasus Ulah Pati "Bunuh Diri" terjadi dan harus segera diantisipasi berbagai pihak. Sebagai para pengurus Organisasi dan lembaga Hindu di Kupang dan NTT harus lebih sering turun melihat kondisi umat Hindu yang masih banyak sekali memerlukan bantuan dan siraman kerohanian agar mereka tidak kekeringan dan dahaga kehausan dalam memperoleh siraman Tattwa , dan etika susila dalam berupacara yadnya yang tulus dan ihklas (Lascarya).

Keluarga Dharmika Bapak Eka Kurniawan, Disabilitas Hindu, di Alak Kota Kupang NTT
Baca Juga : Hindu Kupang "PEKA Peduli Kasih" Salurkan Bantuan untuk Keluarga Disabilitas, Seimbangkan Yadnya dan Kemanusiaan Wujudkan Tri Hita Karana

Peliharaan usaha ternak Bebek, Keluarga Bapak Eka Kurniawan (Disabilitas Hindu), dan Juga Usaha Laundry Rumahan di Alak Kota Kupang NTT

Sarasamuccaya : Petunjuk Luhur dalam Beramal
Di Dalam kitab suci Sarasamuccaya, disebutkan bahwa sedekah dan beramal adalah jalan utama menuju kebahagiaan sejati. “Di dunia ini tiada tempat berbuat Dharma yang tak menghasilkan kebahagiaan.” Maka dari itu, berbagi adalah jalan menuju kebebasan rohani dan kebahagiaan sejati, baik bagi pemberi maupun penerima.(*OMTatSat/RyGuN)
Sumber dan Foto : Hindukupang.com / Guntara

Hindukupang.com : Keluarga Dharmika Bapak I Nyoman Simpen, di Belo Kolhua Kota Kupang NTT,
Kak Guntara, Bersama Ojek Online Bapak Made Wawan Grab Bike dan Bapak Nyoman Simpen Maxim Hindu Kupang NTT.

Baca Juga : Rangkaian Kegiatan Nyepi Tahun Baru Saka 1947 di Kota Kupang Tahun 2025
Baca Juga : Upacara Melasti 2025 Umat Hindu Kupang Gelar Ritual Penyucian Sambut Datangnya Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 10 June 2025
- Hits: 1049




































































.jpg)









