Print 

Ngaben Prenawa1

Sharing Bersama Ida Pedanda Gede Panji Sogata yang dihadiri Kantor Kementerian Agama Kota Kupang dalam Kegiatan Pembinaan Pengurus Lembaga Agama Hindu

Tema : Melalui Kegiatan Pembinaan Pengurus Lembaga Agama Hindu Kita Sukseskan Pelaksanaan Upacara Ngaben Massal Guna Membangun Pelayanan Umat Yang Cerdas Memiliki Integritas, Profesionalitas, Inovatif, Tanggung Jawab Dan Keteladanan.

Dalam rangka menyambut persiapan Ngaben Massal, maka pada hari Sabtu, 8 Agustus 2015 bertempat di Aula Pura Oebananta, Kota Kupang NTT, dilaksanakan pertemuan umat Hindu Kupang bersama Ida Pedanda Gede Panji Sogata dan Pedanda Istri. 
Acara ini pun dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Bapak Drs.Ambrosius Korbaffo,M.Si yang didampingi oleh Bapak Prof.Dr.Ir. I.N.W. Mahayasa,MP (Ketua PHDI Kota Kupang sebagai Penanggung Jawab Kegiatan Ngaben Massal) dan Ibu Dra.Ni Wayan Sunarsih,MM (Pembimas Hindu Propinsi NTT), serta Bapak Komang Gejir (Ketua Banjar Dharma Agung Kupang sebagai Ketua Panitia Pelaksana Ngaben Massal).

Menurut Laporan Ketua Panitia Acara Sharing bersama yang berlangsung selama 7 jam ini yaitu Bapak I Gusti Putu Wirata, S.Ag (Penyelengara Bimas Hindu Kota Kupang),  kegiatan membahas teknis pelaksanaan dan tujuan Ngaben Massal yang dilakukan oleh Ida Pedande Gede Panji Sogata di Kupang dan juga yang pernah dilaksanakan Ngaben Prenawa di berbagai daerah, serta maknanya sesuai hasil keputusan dari Parisada Pusat.

Diskusi bersama umat Hindu Kupang dihadiri oleh ketua Tempekan, pengurus Banjar Dharma Agung Kupang, panitia Ngaben Massal, serta berbagai ketua-ketua Lembaga Hindu yang ada di kupang.

Ngaben Yang akan dilaksanakan di Kupang disebut Ngaben Prenawa, yaitu upacara membakar perwujudan simbolis dari manusia yang sudah meninggal untuk menyucikan Atman (roh suci) dan mengembalikan Tubuh kembali ke Panca Maha Bhuta (air, api, udara, tanah, Ether)

Terdapat 23 keluarga (21 anak-anak dan 2 dewasa) di tahun 2015 ini yang akan mengikuti Ngaben Massal (yang keguguran maupun yang sudah meninggal) dan telah mendaftarkan "Sawa" (perwujudan simbolis dari yang meninggal), untuk menyucikan dan menempatkan (Ngelinggihan) Sang Pitra (leluhur) di Kemulan ataupun Plangkiran di rumah keluarga Duka masing-masing.

Puncak Acara Ngaben Prenawa yang dipimpin oleh Ida Pedanda Gede Panji Sogata akan dilakukan hari Jumat, tanggal 21 Agustus 2015 di Pura Prajapati, Kelurahan Nunbaun Sabu Kecamatan Alak Kota Kupang, yang dimulai dari pagi jam 07.00 WITA dan pembakaran sebelum jam 12.00 Siang, dilanjutkan dengan Nganyut jam 14.00 WITA (2 siang) serta Ngelinggih sore jam 16.00. Direncanakan juga acara Ngaben Massal ini pun akan dihadiri oleh Walikota Kupang , Bapak Jonas Salean, SH,M.Si dan juga Wakil Walikota Kupang, Bapak dr.Hermanus Man.

Makna dari Ngaben Massal yang Prenawa ini dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan jaman umat Hindu ke depan di berbagai daerah di Indonesia, karena proses beragama jangan dibuat rumit dan memberatkan umat, demikian Kata Ida Pedanda Gede Panji Sogata, dimana ada hal yang bisa dipermudah jangan dibuat sulit, karena intinya makna dari Upacara Ngaben sudah sesuai petunjuk keputusan Parisada Pusat, serta rangkaian Ngaben secara Niskala (alam) dan Skala (manusia) terpenuhi.

Ngaben massal termasuk upacara pitra yadnya yang hakikatnya untuk mewujudkan bakti kepada leluhur. Upacara yadnya pada leluhur seperti kepada ayah dan ibu dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah satu dari cara itu dengan melakukan upacara pitra yadnya setelah leluhur itu tidak lagi hidup di dunia yang nyata ini dengan melakukan upacara ngaben bagi leluhur atau keluarga yang telah meninggal.

Ngaben jangan lagi menjadi beban yang dirasakan memberatkan oleh umat. Bila pemahaman umat pada upacara ngaben itu sudah benar dan baik dari sisi filsafat dan tattwa, mengenai Upacara ngaben bersama (massal) maka rasa kebersamaan akan muncul.

Berbakti kepada leluhur tidak hanya dilakukan melalui Ngaben, sesungguhnya juga wajib dilakukan dalam bentuk meningkatkan pendidikan dan kualitas hidup kepada anak-anak sendiri. Sebab anak-anak itu pada hakikatnya menurut keyakinan Hindu adalah leluhur yang turun menjelma. Bila segala aset keluarga dihabiskan untuk ngaben, mamukur dan lainnya, maka apabila Leluhur itu menjelma (reinkarnasi) menjadi anak-anak sendiri tentunya juga menjadi tidak baik bila tidak mampu memberikan pemeliharaan dan pendidikan yang benar dan baik akibat dana yang sudah terkuras untuk upacara besar-besaran apalagi berhutang untuk menjaga gengsi.

Wujud Bakti pada leluhur juga bisa dilakukan dengan tekun berkarma baik penuh dedikasi sesuai dengan profesi dan swadharma uamt Hindu masing-masing. Seperti disebutkan Manawa Dharma Sastra III.37 dan 38, "Anak-anak yang lahir dari perkawinan yang baik dan benar bila ia berbuat baik akan dapat menebus dosa-dosa leluhur dan keturunan kita kelak. Berkarma baik dan benar (Dharma) menurut profesi dan fungsi masing-masing inilah jangan dilupakan sebagai cara berbakti kepada leluhur menuju bakti kepada Tuhan.
Sehingga antara upacara Pitra Yadnya yaitu Ngaben ini dan berkarma baik secara nyata hendaknya jangan dipisahkan. Karena, upacara ngaben sampai Ngelinggihan di dalamnya sangat sarat dengan kandungan ajaran kebaikan yang universal. Karma Baik itulah yang dilaksankaan dalam wujud nyata di kehidupan sehari-hari dalam hidup ini sebagai bakti pada leluhur.

FOTO KEGIATAN KLIK DISINI.